2 Kali Sial Di Lokasi Yang Sama
Fakfakinfo.com_ Kapal baru digunakan, pelayaran merupakan pelayaran perdana, tentu saja ABK (Anak Buah Kapal) juga masih baru, namun sudah dua kali mengalami ‘nasib sial’. Ya, kapal perintis KM Sabuk Nusantara 32 milik PT. Pelni yang melayari rute Sorong hingga Timika ini, dua kali mengalami masalah dengan barang yang bernama minyak, di tempat yang sama, Pelabuhan Fakfak.
Seperti yang diberitakan media ini, seminggu lalu, kapal buatan anak negeri berbobot 1.200 GT dengan panjang sekitar 68 meter ini, mengalami kekurangan solar. Akibatnya, puluhan penumpang dari Gorom, Geser dan Bula yang akan ke Kaimana dan Timika, terlantar selama 4 hari di Pelabuhan Fakfak.
Akibat terlantar selama 4 hari, beberapa balita mengalami panas badan. Bahkan salah satu balita yang bernama Andri sempat dibawa ke Puskesmas Kota. Andri diakui mengalami mencret dan panas tinggi oleh ibunya.
Akhirnya, setelah mendapatkan pasokan solar sebanyak 39 ton dari Pertamina Fakfak, KM Sabuk Nusantara dapat melanjutkan pelayarannya menuju Kaimana dan Timika.
Menurut Samiran, Head Operation Pertamina Fakfak, tertundanya pengisian solar oleh Pertamina karena pihaknya menunggu persetujuan Pertamina Makasar.
“Kapal tersebut masih baru, sehingga belum ada dalam daftar untuk mendapatkan pasokan BBM. Sehingga kami masih harus menunggu berita dari Pertamina Makasar. Rencananya, kami akan memasok 39 ton solar bersubsidi.” Ujar Samiran saat ini.
Dan pada Rabu (8/2) lalu, kapal yang sama dan pada pelabuhan yang sama, yakni Pelabuhan Fakfak, kembali harus berurusan dengan masalah minyak. Kali ini, kapal yang dinahkodai oleh Hary Gosal ini mengalami kekurangan oli pelumas sehingga mengalami gangguan tehnis pada sistim hidroliknya.
Akibatnya, kapal harus potong rute langsung ke Pelabuhan Sorong untuk perbaikan. Padahal, seharusnya kapal harus melayari rute Fakfak kemudian menuju Gorom, Geser, Bula baru ke Sorong.
Pihak kapal dan Pelni Cabang Fakfak sebenarnya telah berupaya mendapatkan oli pelumas di Fakfak. Namun oli yang diinginkan yakni Agip 100 tidak terdapat di Fakfak.
“Saya kurang percaya kalau Pertamina tidak memiliki stok oli. Sebab, Pertamina juga melayani kapal yang lain. Saya kira olinya sama saja.” Ujar salah satu ABK.
Rupanya, terjadi selain kekurangan solar dan oli, pihak Pelni sebagai pemilik juga kekurangan koordinasi. Prepare atau persiapan pelayaran kapal belum diperhitungkan dengan cermat. Kelakuan kurang professional ini bisa berakibat fatal. Andai kemudi terkunci pada saat kritis, atau andai solar tiba-tiba habis di tengah laut, tentu bisa menimbulkan korban.
Akibat potong rute ini, lagi-lagi puluhan penumpang menjadi korban. Para penumpang jurusan Gorom, Geser dan Bula harus turun di Pelabuhan Fakfak, dan menunggu kapal yang dapat mengangkut mereka ke tujuan.
Tentu saja penumpang kecewa berat. Sebab masalah angkutan laut di Fakfak, bukan seperti angkutan kota yang dating setiap saat. Dibutuhkan beberapa hari untuk mendapatkan kapal berikutnya. Belum lagi masalah biaya yang membengkak dan kerugian waktu. Sebab, sebagian besar penumpang ini akan merayakan lebaran Maulid di kampungnya.
Beberapa penumpang memprotes keputusan potong kompas ini. Tiga penumpang bahkan memasuki anjungan dan meminta ketegasan jadwal kapal dari nahkoda, Hary Gosal. Sempat terjadi sedikit debat cukup panas.
“Sudah dengar sendiri, kan. Kapal ini harus langsung ke Sorong. Bapak mau berlayar tanpa hidrolik? Seperti kemarin, kemudi sempat terkunci.” Sergah Hary setelah berkomunikasi dengan Pelni Sorong yang didengar langsung oleh penumpang.
Akhirnya, kapal melanjutkan perjalannya menuju Pelabuhan Sorong. Mudah-mudahan kru kapal tidak menganggap Pelabuhan Fakfak sebagai pelabuhan ‘angker’. Sebab, sesuai namanya, diharapkan kapal tersebut mampu mempererat hubungan antar wilayah NKRI, utamanya wilayah Papua. (wah)








apa ungkapan ini pasya?
keledai saja tak mau terjungkal di lobang yang sama.