Kebingungan Pers, Dualisme Kebutuhan
Fakfakinfo.com_ Bagaikan alam semesta ini, menurut kitab suci al Qur’an yang telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern, dikatakan bahwa alam semesta semakin berkembang, semakin meluas. Meski tak sebanding dengan alam semesta, maka begitu pula yang terjadi dengan dunia pers di tanah air.
Perkembangan media kini bukan hanya berkutat pada persoalan asal seperti idealisme, pemberi informasi, mendidik masyarakat dan hiburan semata. Namun, perkembangan media kearah orientasi bisnis, nyaris tak terelakkan. Bahkan kadang sering menggelisahkan.
Meski begitu, perkembangan jaman yang menyeret pers ke ranah “basah”, ternyata tak sepenuhnya dipahami oleh masyarakat umum, bahkan oleh kalangan masyarakat pers itu sendiri.
Sebagai pendamping sekaligus penyuara kemerdekaan Negara Republik Indonesia ini, sejak awal kaum pers sudah disuapi oleh satu semangat yang bernama idealisme. Saat duduk di bangku kuliah kewartawanan pun, para punggawa berita lebih banyak dikasi tahu fungsi pers ialah sebagai penyebar informasi, alat mendidik masyarakat dan media hiburan. Pelajaran bahwa pers juga memiliki fungsi ekonomi bin bisnis, baru menyusul belakangan dan mau tak mau harus dicerna.
Perusahaan pers kini bukan hanya sebagai perusahaan idealisme yang berperan membuat hidup lebih hidup. Perusahaan itu sendiri butuh hidup. Dan, karena itu secara bisnis atau komersial, perusahana media harus sehat dan bisa mandiri serta mampu membebaskan diri dari intervensi kekuasaan.
Namun, dari hal inilah asal muasal masalah muncul. Materi yang bernama Uang (berupa iklan ataupun pariwara, atau bahkan berujud angpaw) adalah ujud lain kekuasaan. Perusahaan pers yang sehat secara komersial, mungkin bisa membebaskan wartawannya dari pengaruh uang dalam amplop sodoran nara sumber. Tapi siapa yang kuasa membebaskan pengusaha pers dari pengaruh penguasa iklan dan pariwara?
Sampai di sini saya harus berhenti untuk mencegah penyebaran buruk sangka. Sebab tentu saja kita bisa memberi jubah kebesaran atas kemajuan yang dicapai pada segi bisnis media itu sebagai bentuk kemajuan dan profesionalitas sebuah perusahaan. Prinsipnya, segi bisnis dari perusahaan media harus tetap tunduk kepada aspek idealnya.
Namun, marilah kita bicara realitas. Faktanya, media yang sehat secara finansial, tak seberapa jumlahnya. Jauh lebih banyak yang “kendut-kendut” alias hidup segan mati ogah, daripada media yang sejahtera. Yang sehat brankasnya ini pun bukan tak mungkin tergoda. Maklum, hal ini sesuai “ramalan” sebuah lagu, pengusaha media juga manusia.
Sudah menjadi watak manusia, kalau sudah memiliki satu brankas, dia menginginkan brankas kedua, brankas ketiga, dan seterusnya. Setelah memiliki satu media (koran, majalah, radio ataupun televisi), keinginan memiliki dua media, empat puluh satu media, enampuluh tujuh media, dan seterusnya, akan muncul. “Dan seterusnya” itu bisa berupa perusahana real estate, pertokoan atau mal, pabrik, biro perjalanan, dan sebagainya.
Dari sinilah biasanya penggerogotan itu dimulai. Penggerogotan terhadap idealisme media, dan penggerogotan terhadap idealisme wartawannya.
Sesehat apa pun media induk, tak ada yang bisa menjamin mampu menjaga kesehatan idealisme media yang dilahirkannya atau dicaploknya. Dalam banyak kasus, anak-pinak induk media ini sering menjadi benalu yang menyedot gizi induknya. Si induk pun pada gilirannya kehilangan atau kehabisan energi untuk menjaga moral anak pinaknya. Proses erosi seperti itu kian terasa ketika si induk mengharuskan anak-pinaknya hidup mandiri alias membiayai dirinya sendiri. Seterusnya, si anak-pinak pun dibiarkan menentukan standar moralnya sendiri pula.
Sejujurnya saya belum mengerti, sebenarnya apa sih yang membanggakan atau patut dibanggakan dari seseorang yang memiliki puluhan media? Bukankah karena obsesinya itu ia telah menggembok pintu masuk bagi pengusaha pemula? Juga menghapus tandas hak masyarakat untuk memperoleh keberagaman berita?
Dan, satu lagi, menunggu kapan lagi si raja media akan mendistribusikan isi brankasnya kalau terus menerus sibuk melahirkan dan mengadopsi media angkat? Kapan akan ditunaikan hak wartawan dan karyawan yang telah ikut membesarkan perusahaan media sekaligus memasyhurkan nama pemiliknya?
Memang menyedihkan untuk mengakui bahwa setelah sekian tahun merdeka (mestinya merdeka jiwa dan raga), kita belumlah terlalu banyak memiliki perusahaan media yang sehat. Jasmani dan rohani. Sehat secara bisnis dan sehat secara idealis. Sehat kantong komersialnya dan sehat wajah idealnya.
Kondisi ini telah memberi pengaruh buruk. Pengaruh buruknya menyentuh wartawan, redaktur, para pengambil kebijakan redaksional, dan merembet sampai pada kebijakan komersialnya. Pendek kata seluruh wajah media dibedaki pengaruh buruknya.
Media yang tidak sehat akan dengan suka rela dan terpaksa memelihara para jurnalis yang tidak sehat. Ketidakmampuan perusahaan memberikan kesejahteraan finansial kepada para wartawannya telah membuat pengusaha tutup mata (mestinya buka mata) terhadap kenakalan dan kebrengsekan moral dan perilaku wartawannya. Tentu saja hal yang sama bisa dilakukan oleh media yang tidak sehat batinnya, meski sudah sehat finansialnya.
Di negeri yang nge-top dengan prestasinya sebagai juara bertahan sebagai negara korup, wartawan “buser” alias butuh uang segera seperti itu menemukan ladang subur untuk tumbuh berkembang. Para wartawan “buser ”ini akan dengan mudah berpartner dengan politisi busuk, berkolaborasi dengan birokrat bejat, bekerja sama dengan polisi nakal, main mata dengan pengacara buaya, campur baur (malah ada yang sulit dibedakan) dengan para jaksa, dan … serentengan kolaborasi kongkalikong lainnya.
Sampai di sini sudahlah! Saya mungkin hanyalah seorang wartawan yang sedang dibakar rasa iri. Karena melihat si Anu memiliki rumah tiga lantai dari TST (Tau Sama Tau) dengan oknum Pertamina. Atau saya terlalu banyak mendengarkan keluh kesah wartawan-wartawan muda yang “kalah strat” dengan wartawan seniornya. Atau saya sudah mulai menjadi wartawan tua sebelum sempat menjadi pengusaha media. Boleh jadi, dua-duanya. Jadi, ini cerita saya. Mana ceritamu?
Tak belerlebihan kiranya, saya mengutip kritik Dr. John C. Merrill. Saya sengaja memilih guru besar Universitas Missouri itu karena kita suka takdim bin takjub kalau yang ngomong orang Barat, siapa tahu lebih didengar. “Kebebasan dan independensi pers dalam melaksanakan tugasnya ditekan oleh kepentingan ekonomi yang menguasai pers itu sendiri”.
Jujur, sebenarnya kritik Dr Merrill itu ditujukan kepada pers di negeri Paman Sam sana, bukan pada pers kita. Jadi, tutup telinga saja!
Terakhir, selamat memperingati Hari Pers Nasional ke 66 Tahun 2012. Tulisan ini sebuah penghormatan untuk wartawan senior, penulis dan diam-diam sebagai inspirator saya, Zainal Emka. (Wahyu Hidayat, Pemerhati Masalah Pinggiran)








semoga didareh tidak ada pengkapitalisasian media utk kepentingagan kaum kapitalis dan jurnalis yang ada bukan juga menjadi antek dari kaum kapitalis
geng motor k ini?
ah Pace ko kayak taratau saja…dong itu BSH ka apa?